You are currently viewing Skema Deposit Sampah Dinilai Gagal, Nepal Ubah Strategi di Gunung Everest

Skema Deposit Sampah Dinilai Gagal, Nepal Ubah Strategi di Gunung Everest

Pemerintah Nepal resmi menghentikan skema deposit sampah yang selama lebih dari satu dekade diterapkan bagi pendaki Gunung Everest. Kebijakan ini dicabut setelah dinilai tidak efektif dalam menekan penumpukan limbah di gunung tertinggi dunia tersebut.

Mengutip laporan Independent, Selasa (13/1/2026), pejabat Kementerian Pariwisata Nepal mengatakan kepada BBC bahwa skema deposit itu “gagal menunjukkan hasil nyata” dan justru menambah beban administratif. Meski sebagian besar pendaki berhasil mengambil kembali uang deposit mereka, kondisi kebersihan Everest nyaris tidak mengalami perbaikan signifikan.

Skema tersebut mewajibkan setiap pendaki membayar deposit sebesar USD 4.000 atau sekitar Rp66 juta. Dana itu hanya bisa diklaim kembali jika pendaki membawa turun minimal delapan kilogram sampah setelah ekspedisi selesai. Namun, dalam praktiknya, aturan ini tidak menyasar sumber utama penumpukan limbah.

Otoritas setempat menilai masalah utama terletak pada lokasi pengumpulan sampah. Banyak pendaki hanya membawa turun sampah dari kamp-kamp bawah, sementara limbah di ketinggian ekstrem—seperti botol oksigen, tenda rusak, kemasan makanan, hingga kotoran manusia—dibiarkan tertinggal.

Tshering Sherpa, Kepala Eksekutif Komite Pengendalian Polusi Sagarmatha, mengungkapkan bahwa pendaki cenderung memprioritaskan membawa kembali tabung oksigen dari kamp tinggi. “Barang lain seperti tenda, kaleng, dan kotak makanan kebanyakan ditinggalkan. Itulah sebabnya sampah terus menumpuk di atas,” ujarnya.

Setiap pendaki Everest diperkirakan menghasilkan hingga 12 kilogram sampah selama ekspedisi yang berlangsung berminggu-minggu. Keterbatasan pengawasan menjadi kendala besar, terutama di atas pos pemeriksaan dekat Khumbu Icefall, di mana penegakan aturan dinilai berbahaya dan sulit dilakukan.

Biaya Kebersihan Jadi Solusi Baru

Sebagai pengganti, pemerintah Nepal berencana menerapkan biaya kebersihan wajib yang tidak dapat dikembalikan, dengan nilai yang sama, yakni USD 4.000. Kebijakan ini masih menunggu persetujuan parlemen.

Dana tersebut akan dialokasikan untuk membangun pos pemeriksaan tambahan dan menempatkan petugas penjaga gunung di kamp-kamp tinggi. Pemerintah berharap sistem baru ini menciptakan sumber pendanaan khusus bagi pengawasan dan pembersihan, bukan sekadar formalitas administratif.

Langkah ini menjadi bagian dari rencana aksi Tuna55 dalam pembersihan gunung lima tahunan Nepal. Pejabat dan kelompok lingkungan mengingatkan, tanpa pengawasan berkelanjutan, upaya pembersihan berisiko hanya menyentuh area bawah, sementara puncak Everest tetap menjadi “kuburan sampah” di ketinggian ekstrem.

Leave a Reply