Final Piala Super Spanyol 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Frenkie de Jong. Di tengah panasnya duel El Clasico, gelandang asal Belanda itu tampil sebagai figur sentral dalam kemenangan dramatis Barcelona atas Real Madrid dengan skor 3-2.
Laga sarat tensi tersebut menghadirkan banyak momen krusial sepanjang 90 menit. Namun, satu benang merah yang konsisten terlihat adalah pengaruh De Jong dalam mengendalikan jalannya permainan. Di balik sorotan terhadap Raphinha sebagai pemain terbaik laga, kestabilan ritme Barcelona justru banyak bertumpu pada peran De Jong di lini tengah.
Sejak menit awal, De Jong menjelma sebagai poros utama permainan Blaugrana. Ia cerdas membaca ruang, selalu menawarkan opsi umpan, dan menjadi solusi saat Barcelona ditekan intens oleh Real Madrid. Keberadaannya membuat tim asuhan Xavi Hernandez mampu keluar dari tekanan tinggi tanpa kehilangan struktur permainan.
Dominasi penguasaan bola Barcelona tidak lepas dari keputusan-keputusan sederhana namun efektif yang diambil De Jong. Ia jarang memaksakan permainan, memilih tempo yang tepat, dan memastikan sirkulasi bola tetap mengalir di tengah intensitas tinggi khas El Clasico.
Kontribusinya nyaris sempurna hingga menit-menit akhir pertandingan. Meski harus menerima kartu merah langsung akibat pelanggaran terhadap Kylian Mbappe pada menit ke-90, insiden tersebut tidak menghapus peran besarnya sepanjang laga.
Statistik Bicara
Data dari Opta mempertegas betapa dominannya pengaruh De Jong. Barcelona mencatatkan penguasaan bola hingga 68 persen—angka tinggi untuk laga dengan tekanan sekelas final El Clasico.
De Jong mencatat 22 umpan di sepertiga akhir lapangan, terbanyak dibandingkan seluruh pemain di kedua tim. Catatan tersebut bahkan unggul tipis dari Lamine Yamal. Dalam aspek bertahan, ia membukukan enam kali ball recovery, hanya kalah dari Jules Kounde yang mencatat 11.
Secara total, De Jong menyelesaikan 83 umpan sepanjang pertandingan—setara dengan Pedri dan hanya berada di bawah Kounde. Sebagai perbandingan, pemain Real Madrid dengan distribusi terbanyak hanya mencatat 31 umpan.
Kontrol, Efisiensi, dan Kepemimpinan
Efisiensi menjadi aspek lain yang menonjol dari permainan De Jong. Dalam tempo cepat dan tekanan tinggi, ia hanya kehilangan bola tujuh kali. Dukungan Fermin Lopez sebagai gelandang ketiga membantu menjaga keseimbangan tim, sementara masuknya Dani Olmo memberi variasi tambahan Tuna55 dalam penguasaan bola.
Meski laga berakhir dengan kartu merah, final ini kembali menegaskan nilai De Jong dalam pertandingan besar. Otoritas di lini tengah, kecermatan membaca permainan, dan konsistensi tinggi menjelaskan mengapa ia menjadi sosok vital setiap kali Barcelona ingin mengontrol laga melalui penguasaan bola.
Dalam duel sebesar El Clasico, Frenkie de Jong sekali lagi membuktikan bahwa kelas sejati sering kali hadir lewat ketenangan, bukan sekadar sorotan.